Cerita 'Ngasal'-ku dari Lembaga Sosial menuju ke Automation Workflow

 

dipotret pada 17/02/2025 09:18 WIB (kalau menurut info file aslinya)

Malam yang tenang... Kulihat satu per satu file di dalam folder di laptop-ku dan kutemukan satu foto yang tiba-tiba mengingatkanku pada suatu cerita. Ya, "Semarang Stroy" yang sampai sekarang terus membekas di diriku. Entah bagaimana caranya dan alurnya akhirnya aku bisa bertemu dengan orang-orang seumuran alias Gen Z disana. Sungguh sebuah perjalanan hidup yang tidak pernah terbayang sama sekali pada diriku kala itu walaupun pada akhirnya sadar semua itu tidak kebetulan. Hah?

Iya, kamu tidak salah dengar, bro/sis. Semua itu memang bermula dari keinginanku agar bener-bener bisa bertemu dengan anak-anak muda yang sama-sama menjalani pekerjaannya di sebuah Lembaga Sosial atau bisa dibilang Yayasan kalau di Indonesia. Keinginanku ingin bertemu banyak anak muda awalnya bagiku sepertinya mustahil, hingga akhirnya sebenarnya aku sudah diberikan 'kode' di pertengahan 2023. Sebuah gambar yang sepertinya tidak sengaja terkirim di grup jualan Laptop kala itu masih terngiang jelas di kepalaku.

"Semarang? Siapa mereka sebenarnya ini?" Di kepalaku sempat kepikiran tapi karena waktu itu aku lagi gak mau ambil pusing akhirnya aku putuskan untuk tidak menelusuri hal itu. Tahu aja kan' kalau sudah 'kepo' pastinya sudah di-search ke mana-mana walaupun fisik masih di situ aja, wkwkwk... (btw, waktu itu AI masih belum bisa untuk Searching, lho..)

Aku bener-bener tidak habis pikir ketika pertama kali berkenalan dan melihat satu per satu orang-orang yang kutemui di Semarang kala itu. Sungguh bener-bener semuanya hampir persis mirip dengan apa yang pernah aku harapkan sebelumnya. Sebut saja, ada yang pinter, ada yang lebih muda dariku, ada yang tengil, ada yang periang, dan banyak sekali hal-hal yang kudapatkan dari mereka serta menjadi pembelajaran hidup yang sebenarnya mau aku ceritakan kepada banyak orang tapi selalu terkendala waktu.

Ketika di Semarang itu ada beberapa momen yang sebenarnya mau aku 'umpetin' dari diriku, tapi karena kondisi mendesak akhirnya tetap kueksekusi. Apa itu? Main game PS (eh, jangan ketawa... Itu aslinya mau aku 'pendem' skill itu, lho... wkwkwk), Jajan makanan ringan (asli dah padahal aku nggak mau jajan tapi setelah beberapa kali ditunjukkin akhirnya jadi jajan juga, wkwkwk), nongkrong di Cafe (asli padahal aku bukan tipikal begini. Setidaknya ketika aku ngetik ini), hingga yang paling 'gong'-nya membantu temanku urusan pendataan keuangan.

Asli dah yang membantu temanku perkara pendataan keuangan sebenarnya mau aku 'umpetin' tapi karena aku kasihan dan aku lihat poin-poin masalahnya, ya sudah aku turun tangan dan menyelesaikan dengan ala gaya 'administrasi' yang sebenarnya aku juga sudah agak malas melakukan ini karena seringkali kalau melakukan ini entah kenapa bisa sakit kepala atau pusing padahal cuman lihat data-data doank wkwkwk.

Tapi baru-baru ini aku sadar ternyata permasalahan tadi aku itu bukan di ngelihat data-datanya, tapi memperlakukan datanya. Setelah akhir tahun 2025 kemarin aku terbiasa untuk melihat data-data itu dan membuat/membayangkan workflow secara otomatisnya, aku jujur pake banget merasa lebih enak, lebih nyaman, dan lebih powerful untuk ngerjainnya. Akhirnya ungkapan sakral 'template-ku' tentang "Sistem ini harus lebih efektif dan efisien" ini ternyata tentang Otomatisasi Workflow (Automation Workflow), aku langsung kayak, "WAH! Ini ternyata yang aku cari dan butuhkan. DAN AKU ENJOY jalaninnya!".

Ya, walaupun begitu aku sadar bahwa 'sharing' hal beginian ke teman-teman belum tentu bisa diterima dengan cepat. Apalagi kadang kesibukan 'otak kiri' alias 'rutinitas' mungkin bisa membunuh daya kreativitas (mungkin, ya...). But again, kusadari bahwa kalau manusia-nya aja mau maju dan terus belajar, ya barangkali bisa saja dia mau nerima pembelajaran dari siapa saja dan kapan saja.

Sayangnya, 'Time is ticking'. Waktu terus berjalan. Aku sadar semenjak kala itu bukan saatnya lagi aku terlalu 'merengek' kepada Tuhan untuk dipertemukan dengan orang yang kuinginkan, bukan juga 'menangis' untuk kepergian orang yang kuinginkan. I know semuanya akan kembali kepadanya. Tapi aku selalu berharap pertemuan yang sudah dilakukan kali ini tidak berhenti sampai sini saja, melainkan terus berkelanjutan.

Sekarang ini memang kita berbeda pulau, berbeda jam waktu ibadah (maybe), dan juga berbeda cara pandang yang aku yakin perlahan tapi pasti kita akan semakin dewasa. Kalau semisal aku bisa bertemu dengan kalian, aku yakin waktunya akan tepat dan pastinya kita akan sukses dan berhasil di kehidupan kita yang semakin lama akan semakin membaik ini.

Kalau kalian pikir aku ngomongin segelintir orang, maka aku bilang kurang tepat. Kenapa? Karena kita sendiri adalah kumpulan dari energi banyak orang yang selalu mendukung kita tanpa kenal jarak dan waktu. So, siapapun yang menemani diri kalian itu sama berharganya dengan diri kalian itu sendiri. Ortu kalian, guru kalian, teman kalian, tetangga kalian, dan juga diri kalian adalah sama berharganya bagi cerita pengalaman hidupku, ok? Hehehe...


Terima kasih, teman-temanku dimana pun kalian berada. Kita akan bertemu lagi dalam kesempatan lain, jika tidak di dunia ini, maka kita akan bertemu di surga nanti.


See you!



Komentar